Selasa, 02 Oktober 2012

PENGAWASAN MUTU PADA PROSES PEMBUATAN LOIN TUNA DI PT LAUTAN NIAGA JAYA



Pada saat kami melakukan Pratek Kerja Industri kami memperhatikan pengawasan mutu yang d lakukan sewaktu praktek d PT. Lautan Niaga Jaya yang kami perhatikan.Pengawasan dapat diartikan suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa
yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksinya bila perlu dengan
maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rancangan semula
(Manullang, 1991). Sedangkan Sarwoto (1991), menyatakan bahwa pengawasan
adalah kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan
terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang
dikehendaki.
PT. Lautan Niaga Jaya berada di komplek Pelabuhan Perikanan Samudra
Jakarta (PPSJ) biasa dikenal dengan sebutan kawasan Fishing Port yang
beralamatkan di Jalan Muara Baru Ujung Blok B No. 168, Kelurahan
Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Lokasi perusahaan dinilai
sangat strategis jika dilihat dari beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan
dalam pemilihan lokasi.
Dalam tiap tahapan proses selalu dilakukan pengawasan oleh seorang
quality control yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing
tergantung pada proses yang diawasi. Selain itu pengawasan terhadap sanitasi
dan higiene juga dilakukan pada tiap tahapan proses. Menurut Panglaykim dan
Tanzil (1986), pengawasan dianggap perlu untuk mencek apa yang telah
dilakukan, guna dapat memastikan apakah pekerjaan yang dilakukan berjalan
dengan memuaskan dan menuju ke arah tujuan yang ditetapkan.
Adapun pengawasan yang dilakukan di PT. Lautan Iaga Jaya pada tiap
tahapan proses, yaitu:
a. Penerimaan bahan baku
Pengawasan yang dilakukan ialah pengawasan pembongkaran,
Pengawasan proses pembongkaran dilakukan oleh quality control saat
proses pembongkaran sedang berlangsung di ruang penerimaan dengan
cara mengawasi secara langsung pada karyawan yang melakukan proses
pembongkaran. Hasilnya ialah proses pembongkaran yang dilakukan secara
baik dan cepat dan ikan tersebut tidak mengalami kerusakan baik pada
bagian kulit maupun tekstur. pengawasan pada peralatan yang digunakan
untuk pembongkaran, untuk pengawasan peralatan yang digunakan pada
proses pembongkaran dilakukan oleh quality control sebelum proses
pembongkaran dimulai. Pengawasan tersebut dilakukan dengan cara
melakukan pengecekan secara langsung kebersihan terhadap peralatan
yang ada diruang penerimaan yang akan digunakan untuk proses
pembongkaran. Hasilnya, alat yang digunakan untuk pembongkaran berupa
ganco yang terbuat dari bahan stainless stell yang telah bersih dan tidak
menyebabkan kontaminasi karena sebelumnya telah diberi alkohol oleh
karyawan sebelum dilakukan pembongkaran.
b. Pencucian I
Pengawasan yang dilakukan pada tahapan pencucian I ini meliputi
pengawasan terhadap suhu air yang digunakan untuk proses pencucian I
dilakukan oleh seorang quality control di ruang penerimaan sebelum proses
pembekuan dimulai. Hasil dari pengecekan suhu yang dilakukan kemudian
dicatat pada form daily record of temperatur control yang dapat dilihat pada
lampiran 3. Dalam hal ini quality control melakukan pemantauan dan
pengawasan terhadap suhu secara periodik dengan menggunakan
thermometer digital dengan cara meletakkan alat dibagian mulut selang
ketika air di alirkan. Hasilnya, suhu air yang digunakan untuk proses
pencucian I tidak lebih dari 17oC. dan kualitas air yang digunakan Untuk
pengawasan kualitas air yang digunakan untuk proses pencucian I seorang
quality control melakukan pengambilan sampel air yang digunakan pada tiaptiap
sumber air (pada selang) yang ada di dalam ruang penerimaan dan
proses ketika proses pembekuan sedang berlangsung. Untuk
pengawasannya secara periodik dicek kandungan E-coli dan TPC-nya oleh
pihak perusahaan setiap satu minggu sekali, dan setiap enam bulan sekali
diuji oleh Balai Laboratorium Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BLPMHP).
Hasilnya, air yang digunakan untuk proses pencucian memiliki jumlah
mikroba tidak melebihi batas sesuai yang ditentukan oleh perusahaan.
c. Penyimpanan sementara
Pengawasan yang dilakukan pada tahapan ini meliputi cara peletakkan
pada bak penyimpanan sementara. Pengawasan cara peletakkan dilakukan
oleh seorang quality control di dalam ruang penerimaan ketika bahan baku
masuk ke perusahaan. Hal yang dilakukan yaitu mengawasi bagaimana cara
peletakkan ikan yang baik pada bak penyimpanan sementara yaitu dengan
cara ikan yang telah dilakukan pencucian I di tarik menggunakan ganco yang
terbuat dari bahan stainless steel agar tidak terjadi kerusakan pada ikan.
Hasilnya, ikan yang dilakukan penyimpanan memiliki tingkat kesegaran yang
baik, bau yang segar dan tekstur yang padat dan kompak.
d. Pencucian II
Proses pencucian II ini tidak jauh berbeda dengan proses pencucian I
baik mengenai pengawasannya maupun teknik pelaksanaanya.
e. Penimbangan I
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahapan penimbangan ini
adalah pengawasan pada ketepatan dan keakuratan timbangan. Pengecekan
keakuratan alat timbang biasanya dilakukan oleh quality control setiap hari
sebelum proses dimulai. Untuk pengkalibrasian alat timbangan disini
dilakukan dengan cara eksternal, dimana pengkalibrasian dilaksanakan
setiap enam bulan sekali oleh BPSMB (Balai Pengujian Sertifikasi Mutu
Barang). Hasil dari pengawasan yang dilakukan pada tahap ini ialah bahan
baku yang ditimbang memiliki jumlah berat yang sesuai dengan jumlah yang
ada pada nota pembelian dari supplier.
f. Pemotongan
Pengawasan disini ditekankan pada hasil dari pemotongan. Pemotongan
dimulai dari bagian bawah tutup insang kemudian ditarik sampai dengan atas
sampai belakang bagian atas tutup insang dan dilakukan perlakuan yang
sama pada sisi lainnya. Selanjutnya kepala ikan tuna ditarik ke atas hingga
kepala ikan tuna terpisah dari badannya. Setelah itu ikan tuna tanpa kepala
difillet.
g. Pembentukan loin
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahapan pembentukan loin ini.
Pengawasan cara pembentukan loin ini dilakukan di dalam ruang penerimaan
pada saat proses sedang berlangsung oleh quality control dan sesekali
dilakukan pengawasan juga oleh manajer produksi. Proses pembentukan loin
yang benar sesuai dengan ketentuan perusahaan adalah yang dilakukan
pertama ialah membelah ikan menjadi empat bagian. Pertama-tama daging
ikan setelah difillet dibelah sampai terlepas dari tulang dan duri, selanjutnya
pada bagian tengah tepat pada gurat sisi sehingga daging ikan akan terbelah
menjadi dua bagian, kemudian dilakukan hal yang sama pada sisi lainnya.
Hasilnya, loin terbentuk menjadi empat bagian serta telah sesuai dengan
ketentuan perusahaan.
h. Pembuangan daging hitam, kulit
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahapan ini adalah cara
pembuangan daging hitam dan kulit. Pengawasan hasil dari pembuangan
daging hitam dan kulit dilakukan di dalam ruang penerimaan oleh quality
control dan sesekali dilakukan pengawasan juga oleh manajer produksi.
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahap pembuangan daging hitam
dan kulit ini ialah untuk mendapatkan bentuk daging yang rapi dan bebas dari
tulang, daging hitam (dark meat) dan kulit serta terhindar dari kontaminasi
bakteri patogen. Hasilnya, bahan baku yang telah dilakukan proses tidak
ditemukan daging hitam dan kulit yang yang masih menempel pada daging.
i. Perapihan
Pengawasan yang dilakukan meliputi proses perapihan atas potongan
daging setelah dilakukan proses pengulitan dan penghilangan daging hitam
serta tulang yang terdapat pada ikan. Pengawasan yang dilakukan meliputi
proses perapihan atas potongan daging setelah dilakukan proses pengulitan
dan penghilangan daging hitam serta tulang yang terdapat pada ikan.
Pengawasan mengenai cara perapihan yang benar ialah perapihan dilakukan
dengan cepat dan saniter dan tulang, daging hitam, dan kulit yang masih
tersisa pada loin dibuang.
j. Penimbangan II
Pada tahapan penimbangan II ini tidak jauh berbeda dengan
penimbangan I dilakukan pengawasan mengenai ketepatan dan keakuratan
dari timbangan.
k. Penambahan gas CO
Pengawasan pada tahapan ini yaitu mengawasi penanganan pada proses
ini, bagaimana cara pemberian gas CO tersebut, kadar gas CO yang
diberikan. Pengawasan dilakukan oleh seorang quality control yaitu
mengawasi penanganan pada proses ini, bagaimana cara pemberian gas CO
tersebut dan peletakkan ikan pada keranjang agar tidak terjadi kemunduran
mutu daging. Mengenai pengawasan cara penambahan gas CO yang ada di
perusahaan ialah daging dikeluarkan dari plastik kemudian jarum smoke
ditusukkan sebanyak 25 kali pada tiap sisi daging loin dan setelah itu
dimasukkan kembali ke plastik dan ditambah gas CO dengan semprot biasa.
Kadar yang gas CO yang disuntikkan yaitu 99,6%. Hasilnya, daging yang
telah dilakukan penambahan gas CO memiliki warna daging menjadi lebih
terang, mengkilat dan tahan lama.
l. Penyimpanan (chilling room)
Pengawasan pada tahapan ini yaitu suhu penyimpanan yang digunakan,
tempat yang digunakan untuk penyimpanan. Pengawasan suhu dilakukan
oleh quality control yaitu suhu penyimpanan yang digunakan untuk
penanganan agar tidak terjadi kemunduran mutu. Pengawasan suhu
dilakukan dengan cara melakukan pengecakan terhadap thermometer yang
terpasang di dinding bagian depan ruang penyimpanan (chilling room).
Pengawasan ini dilakukan setiap 2 jam sekali sebab jika bahan baku yang
diterima perusahaan jumlahnya banyak, maka kegiatan keluar masuk ruang
penyimpanan yang dilakukan oleh karyawan semakin sering sehingga
menyebabkan fluktuasi suhu yang ada di dalam ruang penyimpanan. Selain
itu, kebersihan ruang chiiling room dan peralatan lain yang digunakan juga
tetap diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi pada produk. Oleh karena
itu, sebelum bahan baku yang datang akan disimpan peralatan dan ruangan
penyimpanan terlebih dahulu di bersihkan. Hasilnya, suhu yang digunakan
sesuai dengan ketentuan perusahaan dan tempat yang digunakan dalam
keadaan bersih.
m. Retouching (sortasi)
Pengawasan pada tahapan ini ialah penentuan size yang dilakukan
secara manual oleh karyawan. Dalam melakukan pengawasan penentuan
size loin seorang quality control berpedoman pada ketentuan yang telah
ditetapkan oleh perusahaan. Hasilnya, produk loin yang dilakukan proses
sortasi memiliki berat yang sesuai dengan size loin tersebut.
n. Pengemasan
Pengawasan pada tahap ini ialah pengawasan terhadap bahan
pengemas yang akan digunakan. Pengawasan dilakukan oleh quality control
yang terlebih dahulu harus mengecek kondisi bahan pengemas yang
digunakan. Quality control memastikan bahan pengemas yang akan
digunakan harus masih dalam keadaan utuh, tidak robek atau dalam
keadaaan rusak, selain itu harus dicek pula jenis bahan pengemas yang akan
digunakan mengingat jenis bahan pengemas yang ada bermacam-macam
tergantung jenis merk dari permintaan buyer. Hasilnya, kemasan yang
digunakan dalam keadaan baik, tidak robek dan tidak mencemari produk
yang dikemas
o. Pemvakuman
Pengawasan dilakukan pada proses ini ialah peralatan yang digunakan.
Untuk pengawasan peralatan yang digunakan pada proses pemvakuman
dilakukan oleh seorang quality control. Sebelum digunakan terlebih dahulu
dilakukan pengecekan kebersihan terhadap peralatan yang akan digunakan
untuk pemvakuman. Hasilnya peralatan yang digunakan untuk proses
pemvakuman telah bersih karena sebelum digunakan terlebih dahulu di
lakukan pembersihan dilakukan penyemprotan alkohol untuk membunuh
bakteri yang ada.
p. Pembekuan
Pengawasan yang dilakukan yaitu suhu pembekuan. Pengawasan suhu
pada saat pembekuan dilakukan oleh seorang quality control. Pengawasan
yang dilakukan oleh QC yaitu mengawasi suhu yang digunakan selama
proses pembekuan berlangsung dengan cara melihat alat pengukur suhu
(thermometer) yang terdapat pada dinding bagian depan ruang pembekuan.
Hasilnya, suhu yang digunakan untuk proses pembekuan berada dalam
pengawasan quality control sesuai dengan standar perusahaan yaitu -40oC.
q. Penimbangan III
Pada tahapan penimbangan III ini pengawasan yang dilakukan tidak
berbeda jauh dengan penimbangan I dan II.
r. Pengepakan
Pada proses pengepakan di dalam master carton ini, hal-hal yang perlu
dilakukan pengawasan adalah bahan master carton yang digunakan.
Pengawasan tersebut dilakukan oleh seorang quality control sebelum proses
pengepakan berlangsung dengan cara melihat secra langsung kondisi bahan
master carton yang digunakan untuk pengepakan agar melindungi produk
dari kontaminasi dan kerusakan selama transportasi. Hasilnya, produk yang
dilakukan pengepakan terlindungi dari kontaminasi dari luar dan kode yang
tercantum sesuai dengan master carton yang telah ditentukan.
s. Penyimpanan
Pengawasan pada proses penyimpanan ini yaitu suhu. Pengawasan suhu
dilakukan oleh seorang quality control bagian penyimpanan dan dilakukan
pada saat proses penyimpanan berlangsung dengan cara melihat alat
pengukur suhu (thermometer) yang terdapat pada dinding bagian depan
ruang penyimpanan. Hasilnya, suhu yang digunakan untuk proses
penyimpanan berada dalam pengawasan quality control sesuai dengan
standar perusahaan yaitu -26oC.
Dari hasil pembahasan yang ditulis, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan bahwa pada umumnya sistem pengawasan pada proses
pembekuan dari setiap tahapan sudah dilaksanakan dengan baik, akan tetapi
masih terdapat sedikit penyimpangan yang dilakukan oleh karyawan pada
proses itu sendiri. Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran yang dapat
diberikan ialah PT. Lautan Niaga Jaya harus selalu memberikan pengertian,
bimbingan maupun informasi secara kontinyu kepada setiap karyawan yang
bertugas yang kurang sadar dan belum mengerti tentang prosedur yang
harus dipatuhi, sehingga dengan tindakan seperti itu sedikit demi sedikit
karyawan akan mengerti dan sadar tentang peraturan yang ada, baik dalam
hal pelaksanaan proses produksi maupun dalam menerapkan sanitasi dan
higiene karyawan.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

About Us

Total Pageviews


Blogger templates

Contoh Tulisan Berjalan

bintang

Poll

my playlist

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts

 
;