Pada saat kami melakukan Pratek Kerja Industri kami memperhatikan pengawasan mutu yang d lakukan sewaktu praktek d PT. Lautan Niaga
Jaya yang kami perhatikan.Pengawasan dapat diartikan suatu proses untuk
menetapkan pekerjaan apa
yang sudah dilaksanakan, menilainya dan
mengoreksinya bila perlu dengan
maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai
dengan rancangan semula
(Manullang, 1991). Sedangkan Sarwoto (1991),
menyatakan bahwa pengawasan
adalah kegiatan manajer yang mengusahakan
agar pekerjaan-pekerjaan
terlaksana sesuai dengan rencana yang
ditetapkan dan atau hasil yang
dikehendaki.
PT. Lautan Niaga Jaya berada di komplek Pelabuhan
Perikanan Samudra
Jakarta (PPSJ) biasa dikenal dengan sebutan
kawasan Fishing Port yang
beralamatkan di Jalan Muara Baru Ujung Blok B
No. 168, Kelurahan
Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta
Utara. Lokasi perusahaan dinilai
sangat strategis jika dilihat dari beberapa
faktor yang dapat dipertimbangkan
dalam pemilihan lokasi.
Dalam tiap tahapan proses selalu dilakukan
pengawasan oleh seorang
quality control yang
memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing
tergantung pada proses yang diawasi. Selain
itu pengawasan terhadap sanitasi
dan higiene juga dilakukan pada tiap tahapan
proses. Menurut Panglaykim dan
Tanzil (1986), pengawasan dianggap perlu
untuk mencek apa yang telah
dilakukan, guna dapat memastikan apakah
pekerjaan yang dilakukan berjalan
dengan memuaskan dan menuju ke arah tujuan
yang ditetapkan.
Adapun pengawasan yang dilakukan di PT.
Lautan Iaga Jaya pada tiap
tahapan proses, yaitu:
a. Penerimaan bahan baku
Pengawasan yang dilakukan ialah pengawasan
pembongkaran,
Pengawasan proses pembongkaran dilakukan oleh
quality control saat
proses pembongkaran sedang berlangsung di
ruang penerimaan dengan
cara mengawasi secara langsung pada karyawan
yang melakukan proses
pembongkaran. Hasilnya ialah proses
pembongkaran yang dilakukan secara
baik dan cepat dan ikan tersebut tidak
mengalami kerusakan baik pada
bagian kulit maupun tekstur. pengawasan pada
peralatan yang digunakan
untuk pembongkaran, untuk pengawasan
peralatan yang digunakan pada
proses pembongkaran dilakukan oleh quality
control sebelum proses
pembongkaran dimulai. Pengawasan tersebut
dilakukan dengan cara
melakukan pengecekan secara langsung
kebersihan terhadap peralatan
yang ada diruang penerimaan yang akan
digunakan untuk proses
pembongkaran. Hasilnya, alat yang digunakan
untuk pembongkaran berupa
ganco yang terbuat dari bahan stainless
stell yang telah bersih dan tidak
menyebabkan kontaminasi karena sebelumnya
telah diberi alkohol oleh
karyawan sebelum dilakukan pembongkaran.
b. Pencucian I
Pengawasan yang dilakukan pada tahapan
pencucian I ini meliputi
pengawasan terhadap suhu air yang digunakan
untuk proses pencucian I
dilakukan oleh seorang quality control di
ruang penerimaan sebelum proses
pembekuan dimulai. Hasil dari pengecekan suhu
yang dilakukan kemudian
dicatat pada form daily record of
temperatur control yang dapat dilihat pada
lampiran 3. Dalam hal ini quality control melakukan
pemantauan dan
pengawasan terhadap suhu secara periodik
dengan menggunakan
thermometer digital dengan
cara meletakkan alat dibagian mulut selang
ketika air di alirkan. Hasilnya, suhu air
yang digunakan untuk proses
pencucian I tidak lebih dari 17oC. dan
kualitas air yang digunakan Untuk
pengawasan kualitas air yang digunakan untuk
proses pencucian I seorang
quality control melakukan
pengambilan sampel air yang digunakan pada tiaptiap
sumber air (pada selang) yang ada di dalam
ruang penerimaan dan
proses ketika proses pembekuan sedang
berlangsung. Untuk
pengawasannya secara periodik dicek kandungan
E-coli dan TPC-nya oleh
pihak perusahaan setiap satu minggu sekali,
dan setiap enam bulan sekali
diuji oleh Balai Laboratorium Pengujian Mutu
Hasil Perikanan (BLPMHP).
Hasilnya, air yang digunakan untuk proses
pencucian memiliki jumlah
mikroba tidak melebihi batas sesuai yang
ditentukan oleh perusahaan.
c. Penyimpanan sementara
Pengawasan yang dilakukan pada tahapan ini
meliputi cara peletakkan
pada bak penyimpanan sementara. Pengawasan
cara peletakkan dilakukan
oleh seorang quality control di dalam
ruang penerimaan ketika bahan baku
masuk ke perusahaan. Hal yang dilakukan yaitu
mengawasi bagaimana cara
peletakkan ikan yang baik pada bak
penyimpanan sementara yaitu dengan
cara ikan yang telah dilakukan pencucian I di
tarik menggunakan ganco yang
terbuat dari bahan stainless steel agar
tidak terjadi kerusakan pada ikan.
Hasilnya, ikan yang dilakukan penyimpanan
memiliki tingkat kesegaran yang
baik, bau yang segar dan tekstur yang padat
dan kompak.
d. Pencucian II
Proses pencucian II ini tidak jauh berbeda
dengan proses pencucian I
baik mengenai pengawasannya maupun teknik
pelaksanaanya.
e. Penimbangan I
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahapan
penimbangan ini
adalah pengawasan pada ketepatan dan
keakuratan timbangan. Pengecekan
keakuratan alat timbang biasanya dilakukan
oleh quality control setiap hari
sebelum proses dimulai. Untuk pengkalibrasian
alat timbangan disini
dilakukan dengan cara eksternal, dimana
pengkalibrasian dilaksanakan
setiap enam bulan sekali oleh BPSMB (Balai
Pengujian Sertifikasi Mutu
Barang). Hasil dari pengawasan yang dilakukan
pada tahap ini ialah bahan
baku yang ditimbang memiliki jumlah berat
yang sesuai dengan jumlah yang
ada pada nota pembelian dari supplier.
f. Pemotongan
Pengawasan disini ditekankan pada hasil dari
pemotongan. Pemotongan
dimulai dari bagian bawah tutup insang
kemudian ditarik sampai dengan atas
sampai belakang bagian atas tutup insang dan
dilakukan perlakuan yang
sama pada sisi lainnya. Selanjutnya kepala
ikan tuna ditarik ke atas hingga
kepala ikan tuna terpisah dari badannya.
Setelah itu ikan tuna tanpa kepala
difillet.
g. Pembentukan loin
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahapan
pembentukan loin ini.
Pengawasan cara pembentukan loin ini
dilakukan di dalam ruang penerimaan
pada saat proses sedang berlangsung oleh quality
control dan sesekali
dilakukan pengawasan juga oleh manajer
produksi. Proses pembentukan loin
yang benar sesuai dengan ketentuan perusahaan
adalah yang dilakukan
pertama ialah membelah ikan menjadi empat
bagian. Pertama-tama daging
ikan setelah difillet dibelah sampai terlepas
dari tulang dan duri, selanjutnya
pada bagian tengah tepat pada gurat sisi
sehingga daging ikan akan terbelah
menjadi dua bagian, kemudian dilakukan hal
yang sama pada sisi lainnya.
Hasilnya, loin terbentuk menjadi empat bagian
serta telah sesuai dengan
ketentuan perusahaan.
h. Pembuangan daging hitam, kulit
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahapan
ini adalah cara
pembuangan daging hitam dan kulit. Pengawasan
hasil dari pembuangan
daging hitam dan kulit dilakukan di dalam
ruang penerimaan oleh quality
control dan sesekali
dilakukan pengawasan juga oleh manajer produksi.
Proses pengawasan yang dilakukan pada tahap
pembuangan daging hitam
dan kulit ini ialah untuk mendapatkan bentuk
daging yang rapi dan bebas dari
tulang, daging hitam (dark meat) dan
kulit serta terhindar dari kontaminasi
bakteri patogen. Hasilnya, bahan baku yang
telah dilakukan proses tidak
ditemukan daging hitam dan kulit yang yang
masih menempel pada daging.
i. Perapihan
Pengawasan yang dilakukan meliputi proses
perapihan atas potongan
daging setelah dilakukan proses pengulitan
dan penghilangan daging hitam
serta tulang yang terdapat pada ikan.
Pengawasan yang dilakukan meliputi
proses perapihan atas potongan daging setelah
dilakukan proses pengulitan
dan penghilangan daging hitam serta tulang
yang terdapat pada ikan.
Pengawasan mengenai cara perapihan yang benar
ialah perapihan dilakukan
dengan cepat dan saniter dan tulang, daging
hitam, dan kulit yang masih
tersisa pada loin dibuang.
j. Penimbangan II
Pada tahapan penimbangan II ini tidak jauh
berbeda dengan
penimbangan I dilakukan pengawasan mengenai
ketepatan dan keakuratan
dari timbangan.
k. Penambahan gas CO
Pengawasan pada tahapan ini yaitu mengawasi
penanganan pada proses
ini, bagaimana cara pemberian gas CO
tersebut, kadar gas CO yang
diberikan. Pengawasan dilakukan oleh seorang quality
control yaitu
mengawasi penanganan pada proses ini,
bagaimana cara pemberian gas CO
tersebut dan peletakkan ikan pada keranjang
agar tidak terjadi kemunduran
mutu daging. Mengenai pengawasan cara
penambahan gas CO yang ada di
perusahaan ialah daging dikeluarkan dari
plastik kemudian jarum smoke
ditusukkan sebanyak 25 kali pada tiap sisi
daging loin dan setelah itu
dimasukkan kembali ke plastik dan ditambah
gas CO dengan semprot biasa.
Kadar yang gas CO yang disuntikkan yaitu
99,6%. Hasilnya, daging yang
telah dilakukan penambahan gas CO memiliki
warna daging menjadi lebih
terang, mengkilat dan tahan lama.
l. Penyimpanan (chilling room)
Pengawasan pada tahapan ini yaitu suhu
penyimpanan yang digunakan,
tempat yang digunakan untuk penyimpanan.
Pengawasan suhu dilakukan
oleh quality control yaitu suhu
penyimpanan yang digunakan untuk
penanganan agar tidak terjadi kemunduran
mutu. Pengawasan suhu
dilakukan dengan cara melakukan pengecakan
terhadap thermometer yang
terpasang di dinding bagian depan ruang
penyimpanan (chilling room).
Pengawasan ini dilakukan setiap 2 jam sekali
sebab jika bahan baku yang
diterima perusahaan jumlahnya banyak, maka
kegiatan keluar masuk ruang
penyimpanan yang dilakukan oleh karyawan
semakin sering sehingga
menyebabkan fluktuasi suhu yang ada di
dalam ruang penyimpanan. Selain
itu, kebersihan ruang chiiling room dan
peralatan lain yang digunakan juga
tetap diperhatikan agar tidak terjadi
kontaminasi pada produk. Oleh karena
itu, sebelum bahan baku yang datang akan
disimpan peralatan dan ruangan
penyimpanan terlebih dahulu di bersihkan.
Hasilnya, suhu yang digunakan
sesuai dengan ketentuan perusahaan dan tempat
yang digunakan dalam
keadaan bersih.
m. Retouching (sortasi)
Pengawasan pada tahapan ini ialah penentuan size
yang dilakukan
secara manual oleh karyawan. Dalam melakukan
pengawasan penentuan
size loin seorang quality
control berpedoman pada ketentuan yang telah
ditetapkan oleh perusahaan. Hasilnya, produk
loin yang dilakukan proses
sortasi memiliki berat yang sesuai dengan size
loin tersebut.
n. Pengemasan
Pengawasan pada tahap ini ialah pengawasan
terhadap bahan
pengemas yang akan digunakan. Pengawasan
dilakukan oleh quality control
yang terlebih dahulu harus mengecek kondisi
bahan pengemas yang
digunakan. Quality control memastikan
bahan pengemas yang akan
digunakan harus masih dalam keadaan utuh,
tidak robek atau dalam
keadaaan rusak, selain itu harus dicek pula
jenis bahan pengemas yang akan
digunakan mengingat jenis bahan pengemas yang
ada bermacam-macam
tergantung jenis merk dari permintaan buyer.
Hasilnya, kemasan yang
digunakan dalam keadaan baik, tidak robek dan
tidak mencemari produk
yang dikemas
o. Pemvakuman
Pengawasan dilakukan pada proses ini ialah
peralatan yang digunakan.
Untuk pengawasan peralatan yang digunakan
pada proses pemvakuman
dilakukan oleh seorang quality control. Sebelum
digunakan terlebih dahulu
dilakukan pengecekan kebersihan terhadap
peralatan yang akan digunakan
untuk pemvakuman. Hasilnya peralatan
yang digunakan untuk proses
pemvakuman telah bersih karena
sebelum digunakan terlebih dahulu di
lakukan pembersihan dilakukan penyemprotan
alkohol untuk membunuh
bakteri yang ada.
p. Pembekuan
Pengawasan yang dilakukan yaitu suhu
pembekuan. Pengawasan suhu
pada saat pembekuan dilakukan oleh seorang quality
control. Pengawasan
yang dilakukan oleh QC yaitu mengawasi suhu
yang digunakan selama
proses pembekuan berlangsung dengan cara
melihat alat pengukur suhu
(thermometer) yang terdapat pada
dinding bagian depan ruang pembekuan.
Hasilnya, suhu yang digunakan untuk proses
pembekuan berada dalam
pengawasan quality control sesuai
dengan standar perusahaan yaitu -40oC.
q. Penimbangan III
Pada tahapan penimbangan III ini pengawasan
yang dilakukan tidak
berbeda jauh dengan penimbangan I dan II.
r. Pengepakan
Pada proses pengepakan di dalam master
carton ini, hal-hal yang perlu
dilakukan pengawasan adalah bahan master
carton yang digunakan.
Pengawasan tersebut dilakukan oleh seorang quality
control sebelum proses
pengepakan berlangsung dengan cara melihat
secra langsung kondisi bahan
master carton yang
digunakan untuk pengepakan agar melindungi produk
dari kontaminasi dan kerusakan selama
transportasi. Hasilnya, produk yang
dilakukan pengepakan terlindungi dari
kontaminasi dari luar dan kode yang
tercantum sesuai dengan master carton yang
telah ditentukan.
s. Penyimpanan
Pengawasan pada proses penyimpanan ini yaitu
suhu. Pengawasan suhu
dilakukan oleh seorang quality control bagian
penyimpanan dan dilakukan
pada saat proses penyimpanan berlangsung
dengan cara melihat alat
pengukur suhu (thermometer) yang
terdapat pada dinding bagian depan
ruang penyimpanan. Hasilnya, suhu yang
digunakan untuk proses
penyimpanan berada dalam pengawasan quality
control sesuai dengan
standar perusahaan yaitu -26oC.
Dari hasil pembahasan yang ditulis, maka
dapat ditarik beberapa
kesimpulan bahwa pada umumnya sistem
pengawasan pada proses
pembekuan dari setiap tahapan sudah
dilaksanakan dengan baik, akan tetapi
masih terdapat sedikit penyimpangan yang
dilakukan oleh karyawan pada
proses itu sendiri. Berdasarkan kesimpulan
diatas maka saran yang dapat
diberikan ialah PT. Lautan Niaga Jaya harus
selalu memberikan pengertian,
bimbingan maupun informasi secara kontinyu
kepada setiap karyawan yang
bertugas yang kurang sadar dan belum mengerti
tentang prosedur yang
harus dipatuhi, sehingga dengan tindakan
seperti itu sedikit demi sedikit
karyawan akan mengerti dan sadar tentang
peraturan yang ada, baik dalam
hal pelaksanaan proses produksi maupun dalam
menerapkan sanitasi dan
higiene karyawan.




0 komentar:
Posting Komentar